Tidak sedikit orang yang merasa terjebak oleh masa lalunya. Dosa yang pernah dilakukan, kesalahan yang berulang, dan kegagalan yang meninggalkan luka sering kali membuat seseorang merasa tidak pantas untuk berubah. Awal tahun pun terkadang hanya menjadi pengingat pahit bahwa hidup seolah berjalan di tempat. Namun Islam datang membawa kabar yang menenangkan: Allah tidak menilai seorang hamba dari masa lalunya, melainkan dari ke mana arah langkahnya hari ini dan seterusnya.
Dalam pandangan Islam, masa lalu bukan penjara. Ia adalah pelajaran. Yang menjadi penentu adalah sikap seseorang setelah menyadari kesalahannya. Al-Qur’an dengan tegas menegaskan bahwa pintu kembali selalu terbuka selama hayat masih dikandung badan. Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا
“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini turun bukan untuk orang-orang yang merasa suci, tetapi untuk mereka yang merasa penuh dosa. Allah tidak bertanya berapa lama seseorang bergelimang dalam kesalahan, tetapi apakah ia mau berbalik arah dan kembali. Karena itu, keputusasaan justru lebih berbahaya daripada dosa itu sendiri, sebab ia membuat seseorang berhenti melangkah.
Rasulullah ﷺ menanamkan optimisme ini dengan sangat kuat. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
التَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ
“Orang yang bertaubat dari dosa bagaikan orang yang tidak memiliki dosa sama sekali.”
(HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan betapa Allah memandang arah langkah, bukan jejak masa lalu. Selama seseorang sungguh-sungguh ingin berubah dan berusaha meninggalkan dosa, maka lembaran barunya benar-benar dibuka. Bahkan, dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menyampaikan kabar yang lebih menakjubkan tentang keluasan rahmat Allah:
إِنَّ اللَّهَ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ
“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat.”
(HR. Muslim)
Para sahabat Nabi ﷺ memahami betul bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah latar belakang, melainkan kesungguhan untuk berubah. Umar bin Khattab رضي الله عنه pernah berkata:
لَا تَنْظُرُوا إِلَى ذُنُوبِ الْعِبَادِ، وَلَكِنِ انْظُرُوا إِلَى تَوْبَتِهِمْ
“Janganlah kalian melihat dosa-dosa hamba, tetapi lihatlah bagaimana taubat mereka.”
Atsar ini mengajarkan bahwa seorang mukmin seharusnya lebih fokus pada proses kembali kepada Allah, bukan tenggelam dalam penyesalan tanpa ujung. Penyesalan yang sehat adalah yang mendorong langkah, bukan yang melumpuhkan harapan.
Ulama besar seperti Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa hakikat hijrah seorang hamba adalah perpindahan arah hidup, bukan penghapusan sejarah. Ia berkata:
الهِجْرَةُ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى بِالْقَلْبِ قَبْلَ الْجَسَدِ
“Hijrah kepada Allah itu dimulai dengan hati sebelum anggota badan.”
Ketika hati telah berpindah arah, masa lalu tidak lagi menjadi beban yang menahan langkah. Justru, masa lalu bisa menjadi pengingat agar seseorang lebih rendah hati dan lebih bergantung kepada Allah. Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui niat dan usaha hamba-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-‘Ankabut: 69)
Ayat ini menunjukkan bahwa petunjuk Allah hadir ketika seseorang mau melangkah, meskipun tertatih. Tidak ada syarat harus bersih dari masa lalu untuk mendapatkan hidayah. Yang ada hanyalah syarat mau bergerak menuju Allah.
Awal tahun, atau momen apa pun dalam hidup, sejatinya adalah kesempatan untuk meluruskan arah. Bukan tentang menghapus semua kesalahan seketika, tetapi tentang keberanian untuk berkata dalam hati: “Aku ingin berubah.” Langkah itu mungkin kecil, namun di sisi Allah ia sangat besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Selama arah langkah masih menuju Allah, kegagalan di tengah jalan bukan akhir segalanya. Yang berbahaya bukanlah masa lalu yang kelam, tetapi berhenti melangkah karena merasa tidak layak. Islam mengajarkan bahwa harapan selalu lebih besar daripada dosa, dan rahmat Allah selalu mendahului murka-Nya.
Allah tidak menilai siapa kita kemarin, tetapi ke mana kita melangkah hari ini. Selama arah itu masih menuju-Nya, maka setiap langkah, sekecil apa pun, adalah bagian dari perjalanan pulang yang mulia.
