Tidak semua orang diberi umur panjang. Tidak semua pula diberi kesempatan melakukan amal besar yang terlihat oleh banyak manusia. Namun Islam datang dengan kabar yang menenangkan hati: ada amalan-amalan ringan, sederhana, bahkan sering diremehkan, tetapi pahalanya terus mengalir meski jasad kita telah terbujur kaku di dalam kubur.
Banyak dari kita mungkin bertanya dalam diam, “Jika kelak aku wafat, apa yang masih tersisa dariku?” Harta akan diwariskan, jabatan akan dilupakan, nama perlahan memudar. Tetapi amal, ia tidak pernah mati.
Rasulullah ﷺ telah menjelaskan dengan sangat gamblang dalam hadis yang masyhur:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)
Hadis ini bukan sekadar pengingat tentang kematian, tetapi juga motivasi agar hidup kita tidak berakhir sia-sia.
Sedekah jariyah sering disalahpahami sebagai sesuatu yang harus besar dan mahal. Padahal, memberi mushaf Al-Qur’an kepada santri, membantu pembangunan tempat wudhu, menyumbang air bersih, atau menyediakan sajadah di masjid, semuanya termasuk amal yang pahalanya terus mengalir. Setiap huruf Al-Qur’an yang dibaca, setiap air yang digunakan untuk bersuci, menjadi saksi kebaikan bagi orang yang telah lebih dulu meninggalkan dunia.
Allah ﷻ berfirman:
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
“Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai terdapat seratus biji.”
(QS. Al-Baqarah: 261)
Betapa Allah melipatgandakan kebaikan, bahkan dari sesuatu yang tampak kecil di mata manusia.
Selain sedekah, ilmu yang bermanfaat juga termasuk amal yang tidak pernah mati. Mengajarkan satu ayat Al-Qur’an, menulis nasihat kebaikan, menyebarkan ilmu yang benar – semuanya bisa menjadi cahaya yang terus menyala. Mungkin kita lupa apa yang pernah kita ajarkan, tetapi Allah tidak pernah lupa mencatatnya.
Ada seorang ulama berkata:
العِلْمُ حَيَاةُ الْقُلُوبِ
“Ilmu adalah kehidupan bagi hati.”
Selama ilmu itu masih hidup di hati manusia, pahala pun tetap mengalir kepada orang yang mengajarkannya.
Dan yang sering membuat hati tersentuh adalah doa anak saleh. Doa yang lirih di sepertiga malam, doa yang dipanjatkan tanpa diminta, doa yang keluar dari hati yang ikhlas – semuanya bisa menjadi penolong orang tua di alam kubur. Bahkan orang yang tidak kaya harta, bisa “kaya amal” jika meninggalkan generasi yang mengenal Allah.
Amalan-amalan ini tidak menuntut kita menjadi orang besar. Ia hanya menuntut keikhlasan dan konsistensi. Kadang kita terlalu sibuk mengejar pengakuan, sampai lupa menanam kebaikan yang kelak akan menyelamatkan kita.
Kematian bukan akhir segalanya. Ia hanya batas antara amal yang terputus dan amal yang terus mengalir. Maka selama napas masih berembus, masih ada kesempatan untuk menanam. Tidak perlu menunggu kaya, tidak perlu menunggu sempurna. Cukup mulai dari yang ringan, tetapi istiqamah.
Karena boleh jadi, satu amal kecil yang kita anggap biasa, justru menjadi sebab Allah merahmati kita saat semua yang lain telah pergi.
