Banyak orang menjalani hidup dengan rutinitas yang hampir sama setiap bulan. Bekerja dari pagi hingga sore, menunggu tanggal gajian, lalu kembali menghitung pengeluaran. Ketika gaji terasa pas-pasan, hati pun sering kali gelisah. Bukan karena kurang iman, tetapi karena kebutuhan hidup terasa semakin menekan. Dalam situasi seperti ini, Islam hadir membawa sudut pandang yang menenangkan: rezeki bukan hanya tentang jumlah, tetapi tentang keberkahan.
Islam sejak awal mengajarkan bahwa rezeki setiap manusia sudah ditentukan oleh Allah. Bahkan sebelum seseorang lahir ke dunia, Allah telah menetapkan kadar rezekinya. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
“Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.”
(QS. Az-Zariyat: 22)
Ayat ini bukan untuk membuat manusia pasrah tanpa usaha, tetapi untuk menenangkan hati agar tidak tenggelam dalam kecemasan berlebihan. Gaji yang kecil bukan berarti Allah lupa, dan penghasilan yang sederhana bukan tanda Allah tidak sayang. Bisa jadi, justru di sanalah Allah menitipkan keberkahan.
Keberkahan rezeki dalam Islam sangat erat kaitannya dengan cara memperoleh penghasilan. Rezeki yang halal, meski sedikit, memiliki dampak besar dalam kehidupan. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa rezeki halal membawa kebaikan, sedangkan yang haram merusak, meski tampak banyak. Dalam sebuah hadits beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik (halal).”
(HR. Muslim)
Banyak orang merasa hidupnya sempit bukan karena kekurangan uang, tetapi karena keberkahan rezeki tidak hadir. Rezeki yang halal itu seperti makanan sederhana yang mengenyangkan, sementara yang tidak halal hanya menambah lapar dan gelisah.
Selain halal, rasa syukur menjadi kunci penting agar gaji pas-pasan tetap terasa cukup. Islam menjanjikan bahwa syukur bukan hanya sikap batin, tetapi pintu tambahan nikmat. Allah berfirman:
لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Tambahan nikmat tidak selalu berupa kenaikan gaji atau harta yang melimpah. Kadang berupa kesehatan yang terjaga, keluarga yang harmonis, atau hati yang tenang menghadapi hidup. Orang yang bersyukur tidak mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain, karena ia sadar bahwa setiap orang memiliki jalan rezekinya masing-masing.
Islam juga mengajarkan sesuatu yang sering terasa bertentangan dengan logika manusia: berbagi di saat rezeki terasa sempit. Banyak orang berpikir sedekah hanya pantas dilakukan ketika uang berlebih, padahal Rasulullah ﷺ justru mengajarkan sebaliknya. Beliau bersabda:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak akan mengurangi harta.”
(HR. Muslim)
Hadits ini bukan janji kosong. Sedekah sering kali menghadirkan keberkahan dalam bentuk yang tidak terduga. Bukan selalu uang kembali berlipat, tetapi kebutuhan dipermudah, urusan dilancarkan, dan hati dibuat lebih lapang. Gaji tetap pas-pasan, tetapi hidup terasa ringan.
Keberkahan rezeki juga tumbuh dari kesederhanaan hidup. Islam sangat menekankan agar manusia tidak berlebihan dalam membelanjakan harta. Allah mengingatkan:
وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31)
Ketika gaya hidup disesuaikan dengan kemampuan, gaji yang kecil pun terasa cukup. Sebaliknya, hidup yang dipaksakan hanya akan melahirkan utang dan kecemasan. Dalam hal ini, masalahnya bukan pada rezeki, tetapi pada cara manusia menyikapinya.
Tawakal menjadi penopang utama bagi mereka yang hidup dengan penghasilan terbatas. Tawakal bukan berarti berhenti berusaha, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah bekerja sebaik mungkin. Allah berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3)
Ayat ini memberikan ketenangan luar biasa. Kecukupan yang Allah janjikan tidak selalu identik dengan kemewahan, tetapi dengan rasa cukup yang menenangkan jiwa.
Doa juga tidak boleh dipisahkan dari usaha mencari rezeki. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk selalu memohon rezeki yang baik dan berkah. Salah satu doa yang beliau panjatkan adalah:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku terhindar dari yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.”
(HR. Tirmidzi)
Pada akhirnya, gaji pas-pasan bukanlah penghalang untuk hidup penuh keberkahan. Islam tidak mengukur kemuliaan seseorang dari besarnya penghasilan, tetapi dari ketakwaan dan cara ia menjalani hidup. Ketika rezeki diperoleh secara halal, disyukuri dengan tulus, dibagikan meski sedikit, dan diiringi tawakal serta doa, maka keberkahan akan hadir, meski tidak selalu terlihat oleh mata, tetapi sangat terasa di hati.
Bisa jadi, justru dalam keterbatasan itulah Allah sedang mengajarkan arti cukup, arti sabar, dan arti percaya sepenuhnya kepada-Nya.
