Bagi sebagian orang, Ramadan adalah kalender.
Bagi para salaf, Ramadan adalah kerinduan.
Ia bukan sekadar bulan yang datang setiap tahun.
Ia adalah tamu agung yang ditunggu dengan air mata dan doa.
Bagaimana para salaf menyambut Ramadan?
Apa yang membuat mereka begitu merindukannya?
Mari kita menengok jejak mereka.
Enam Bulan Berdoa Agar Dipertemukan dengan Ramadan
Diriwayatkan bahwa sebagian ulama salaf berdoa selama enam bulan sebelum Ramadan:
“Allahumma ballighna Ramadan.”
“Ya Allah, sampaikanlah kami kepada Ramadan.”
Dan enam bulan setelah Ramadan, mereka berdoa agar amal mereka diterima.
Artinya, dalam satu tahun penuh, hati mereka tidak pernah jauh dari Ramadan.
Bagi mereka, Ramadan bukan rutinitas tahunan.
Ia adalah proyek besar ruhiyah.
Pertanyaannya:
Apakah kita menunggu Ramadan seperti menunggu diskon besar,
atau seperti menunggu kesempatan diampuni?
Mereka Mengurangi Aktivitas Dunia
Ketika Ramadan semakin dekat, para salaf mulai mengurangi urusan dunia.
Imam Malik رحمه الله, ketika memasuki Ramadan, beliau meninggalkan majelis hadis dan fokus pada tilawah Al-Qur’an.
Sufyan Ats-Tsauri juga dikenal memperbanyak ibadah dan mengurangi interaksi duniawi.
Bukan karena dunia haram.
Tetapi karena Ramadan adalah musim panen pahala.
Orang yang cerdas tahu kapan harus fokus.
Tilawah Al-Qur’an Menjadi Nafas Mereka
Ramadan dan Al-Qur’an tidak bisa dipisahkan.
Sebagian salaf mengkhatamkan Al-Qur’an setiap tiga hari.
Ada yang setiap tujuh hari.
Bahkan ada yang setiap sepuluh hari di luar Ramadan — lalu lebih sering lagi di dalamnya.
Bagi mereka, Ramadan adalah bulan kembali kepada Kalamullah.
Bukan hanya membaca, tetapi menghayati.
Hari ini, kita mungkin mampu menonton serial berjam-jam tanpa lelah.
Namun berapa lama kita sanggup duduk bersama Al-Qur’an?
Tangisan di Malam Hari
Ramadan bagi para salaf bukan hanya ramai di siang hari,
tetapi sunyi dan penuh tangis di malam hari.
Qiyamul lail mereka panjang.
Doa mereka dalam.
Air mata mereka tulus.
Mereka tidak yakin Ramadan berikutnya masih bisa mereka temui.
Kesadaran akan kefanaan membuat ibadah mereka hidup.
Mereka Takut Amal Tidak Diterima
Inilah yang paling menyentuh.
Walaupun ibadah mereka luar biasa,
mereka tetap takut amalnya ditolak.
Allah berfirman:
“Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan dengan hati yang takut.”
(QS. Al-Mu’minun: 60)
Aisyah رضي الله عنها bertanya:
“Apakah mereka itu orang yang berzina dan mencuri?”
Rasulullah ﷺ menjawab:
“Bukan. Mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut amalnya tidak diterima.”
Bandingkan dengan kita.
Kadang baru satu kali khatam, sudah merasa cukup.
Ramadan bagi Salaf adalah Transformasi
Ramadan tidak berlalu tanpa bekas.
Akhlak mereka membaik.
Lisan mereka lebih terjaga.
Hati mereka lebih lembut.
Karena mereka tidak hanya menjalani Ramadan secara fisik,
tetapi juga secara batin.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Kita mungkin tidak mampu menyamai ibadah mereka.
Namun kita bisa meniru semangatnya.
- Menyambut Ramadan dengan doa
- Mengurangi distraksi dunia
- Memperbanyak tilawah
- Menghidupkan malam
- Takut amal tidak diterima
Ramadan bukan sekadar menahan lapar.
Ia adalah kesempatan memperbaiki arah hidup.
Sudahkah Kita Merindukan Ramadan?
Para salaf merindukan Ramadan sebelum ia datang.
Mereka menangisinya ketika ia pergi.
Karena mereka tahu,
Ramadan adalah peluang besar yang belum tentu terulang.
Semoga kita tidak hanya menyambut Ramadan dengan menu sahur dan jadwal buka puasa,
tetapi dengan hati yang penuh rindu dan kesiapan berubah.
Karena sejatinya,
Ramadan adalah tentang siapa kita setelah ia pergi.
