Skip to content
Menu
  • Tentang Kami
  • Layanan Donatur
    • Registrasi Donatur
    • Donasi Sekarang
    • Konfirmasi Transfer
    • Kalkulator Zakat
  • FAQ
  • Contact
  • Blog
    • Artikel Terbaru
    • Kegiatan Terbaru
malam lailatul qodar

Mengapa Ulama Sangat Menekankan Ibadah di 10 Hari Terakhir Ramadhan?

Posted on 14 Maret 2026 by Andi

Ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Di awal bulan, semangat ibadah biasanya terasa sangat tinggi. Masjid penuh, tilawah Al-Qur’an meningkat, dan banyak orang berusaha memperbaiki diri. Namun ada satu fase dalam Ramadhan yang selalu mendapatkan perhatian khusus dari para ulama: sepuluh hari terakhir.

Bukan tanpa alasan.

Sejak dahulu para ulama selalu mengingatkan umat Islam agar tidak justru melemah ketika Ramadhan hampir selesai. Sebaliknya, justru di penghujung bulan inilah semangat ibadah seharusnya mencapai puncaknya. Jika diibaratkan seperti lomba lari, sepuluh hari terakhir adalah garis finish. Di sinilah seorang mukmin mengerahkan seluruh tenaganya.

Pertanyaannya: mengapa para ulama begitu menekankan ibadah di fase ini?

Mengikuti Sunnah Rasulullah

Alasan pertama tentu saja karena Rasulullah ﷺ sendiri memberikan contoh yang sangat jelas.

Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa ketika memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan, Nabi tidak beribadah seperti hari-hari sebelumnya. Beliau meningkatkan ibadah secara signifikan. Bahkan dalam sebuah hadits disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, membangunkan keluarganya, dan bersungguh-sungguh lebih dari waktu lainnya.

Para ulama melihat teladan ini sebagai sesuatu yang sangat penting. Jika Nabi yang sudah dijamin ampunan dosanya saja masih bersungguh-sungguh di akhir Ramadhan, maka bagaimana dengan kita yang penuh kekurangan?

Karena itu, para ulama selalu menekankan: ikutlah pola ibadah Rasulullah. Jangan sampai semangat kita justru menurun ketika Ramadhan hampir selesai.

Karena Di Dalamnya Ada Lailatul Qadar

Salah satu rahasia terbesar dari sepuluh malam terakhir adalah keberadaan Lailatul Qadar.

Malam ini bukan malam biasa. Al-Qur’an sendiri menggambarkannya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Jika dihitung secara sederhana, seribu bulan kira-kira setara dengan lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam saja bisa bernilai lebih besar daripada ibadah sepanjang umur manusia.

Bayangkan.

Seseorang yang mungkin tidak memiliki banyak kesempatan beramal sepanjang hidupnya, bisa mendapatkan pahala yang sangat besar hanya karena ia memanfaatkan satu malam ini dengan baik.

Inilah sebabnya para ulama selalu mengatakan bahwa sepuluh malam terakhir adalah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan. Kita tidak tahu kapan tepatnya Lailatul Qadar terjadi. Justru karena dirahasiakan, seorang mukmin dianjurkan untuk menghidupkan seluruh malam-malam tersebut.

Akhir Ramadhan adalah Penutup Amal

Dalam banyak hal, akhir sering kali menentukan nilai keseluruhan perjalanan.

Coba bayangkan seorang pelari maraton yang sudah berlari puluhan kilometer. Jika ia berhenti tepat sebelum garis finish, maka semua perjuangannya terasa sia-sia. Begitu juga dengan Ramadhan.

Sepuluh hari terakhir adalah penutup dari seluruh ibadah yang kita lakukan selama satu bulan penuh. Dalam tradisi spiritual Islam, penutup amal sering kali sangat menentukan.

Para ulama sering mengingatkan bahwa amal seseorang bisa dinilai dari bagaimana ia menutupnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan ibadah yang kuat, maka itu menjadi tanda yang baik. Sebaliknya, jika seseorang mulai lengah, sibuk dengan hal-hal duniawi, atau bahkan kembali pada kebiasaan buruk, maka ia kehilangan momentum yang sangat berharga.

Karena itu, para ulama selalu mendorong umat Islam untuk menguatkan ibadah justru di bagian akhir Ramadhan.

Momentum I’tikaf dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Di sepuluh hari terakhir Ramadhan juga terdapat satu ibadah yang sangat khas: i’tikaf.

I’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah. Dalam praktiknya, seseorang mengurangi interaksi duniawi dan lebih fokus pada ibadah seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan berdoa.

Bagi sebagian orang, i’tikaf mungkin terlihat sederhana. Hanya duduk di masjid. Tetapi sebenarnya ada nilai spiritual yang sangat dalam di dalamnya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu sibuk. Ada pekerjaan, urusan keluarga, media sosial, berita, dan berbagai hal lain yang menyita perhatian. I’tikaf seperti “reset spiritual”. Sebuah kesempatan untuk menjauh sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan kembali menata hubungan dengan Allah.

Para ulama melihat bahwa sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah waktu yang paling tepat untuk melakukan hal ini.

Waktu Terbaik untuk Doa dan Muhasabah

Sepuluh malam terakhir juga sering dijadikan momentum untuk muhasabah, yaitu mengevaluasi diri.

Ramadhan hampir selesai. Dalam beberapa hari lagi, bulan penuh berkah ini akan pergi. Pertanyaannya sederhana, tetapi cukup menggugah hati: apa yang sudah kita dapatkan dari Ramadhan tahun ini?

Apakah kita menjadi pribadi yang lebih sabar?
Apakah kita lebih dekat dengan Al-Qur’an?
Atau jangan-jangan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa perubahan yang berarti?

Di saat-saat seperti ini, doa menjadi sangat penting. Rasulullah bahkan mengajarkan doa khusus yang dianjurkan dibaca pada malam-malam tersebut:

“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.

Doa ini sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.

Jangan Sampai Kita Justru Lelah di Akhir

Ada fenomena yang cukup sering terjadi setiap Ramadhan. Di awal bulan, semangat ibadah sangat tinggi. Namun ketika memasuki sepuluh hari terakhir, sebagian orang justru mulai sibuk dengan persiapan lebaran—belanja, perjalanan mudik, atau berbagai aktivitas lain.

Tanpa disadari, momen paling berharga dalam Ramadhan justru terlewatkan.

Inilah yang sering diingatkan oleh para ulama. Mereka tidak hanya berbicara tentang hukum atau teori ibadah. Mereka juga memahami bagaimana manusia mudah kehilangan fokus.

Karena itu, mereka terus mengingatkan: jangan sampai kita kuat di awal tetapi lemah di akhir.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan bukan sekadar penutup sebuah bulan ibadah. Ia adalah fase paling berharga dari seluruh perjalanan Ramadhan. Di dalamnya terdapat malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan, kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah melalui i’tikaf, serta momentum untuk memperbanyak doa dan muhasabah.

Tidak heran jika para ulama selalu menekankan pentingnya memanfaatkan hari-hari ini dengan sebaik-baiknya.

Ramadhan akan segera pergi. Ia datang hanya sekali dalam setahun, dan tidak ada jaminan kita akan bertemu dengannya lagi di tahun berikutnya.

Karena itu, sepuluh hari terakhir ini bukan waktu untuk melemah.

Justru sebaliknya.

Ini adalah saatnya seorang mukmin berlari lebih cepat menuju garis finish.

©2026 | Powered by Superb Themes