10thJul

Bukti Cinta Kepada Nabi

Orang-orang yang benar-benar cinta, tentu akan mencari waktu dan kesempatan untuk dapat mengorbankan seluruh harta bahkan jiwa raganya, demi sang tambatan hati. Dan begitulah yang dilakukan oleh para shohabat yang menjalin cinta sejati dengan Nabi Muhammad . Kisah pengorbanan mereka telah terukir dalam tinta emas sejarah sepanjang masa dan zaman. Mereka begitu semangat mengorbankan segenap apa yang mereka punya, karena mereka sadar bahwa mencintai beliau  adalah bukti cinta mereka kepada Allah , sebagaimana firman-Nya: “Katakanlah: “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang“. (QS. Ali Imran: 31)

Lihatlah! Begitu menakjubkan kisah Thalhah bin Ubaidillah . Kisah teladan bagi umat Islam dalam ladang perjuangan dan pengorbanan. Marilah kita telaah riwayat yang disampaikan oleh Jabir bin Abdullah , ia berkata, “Di waktu perang Uhud, ketika umat Islam sudah lari meninggalkan medan pertempuran. Maka pasukan yang bertahan tinggal dua belas orang ditambah dengan Rasulullah  termasuk di dalamnya Thalhah bin Ubaidillah . Pasukan Rasulullah  ini pun kemudian diketahui juga oleh kaum Quraisy dan mereka pun diserang. Menghadapi masalah ini, maka beliau menoleh kepada mereka (kedua belas Shohabat beliau) seraya berkata, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh?’ Tholhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Rasulullah bertanya lagi, ‘Siapa lagi selain Tholhah?’ Salah seorang Anshar berkata, ‘Saya, wahai Rasulullah!’ Rasulullah  menjawab, ‘Ya kamu!’ Lalu orang itu maju ke medan laga dan ia pun gugur sebagai syahid. Kemudian beliau menoleh lagi, tiba-tiba kaum musyrik ini hendak melancarkan serangan. Maka Rasulullah  bertanya, ‘Siapa yang akan menghadapi musuh?’ Tholhah menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’

Rasulullah  berkata, ‘Siapa lagi selain Tholhah?’ Seorang Anshar menyahut, ‘Saya, ya Rasulullah!’ Rasulullah  berkata, ‘Ya kamu!’ Maka orang Anshar itu pun berjuang ke medan pertempuran sehingga ia pun gugur sebagai syahid. Dan begitulah seterusnya, sampai akhirnya yang tersisa dari dua belas orang pasukan Muslimin di samping Rasul  adalah Tholhah bin Ubaidillah . Maka kala itu Rasulullah  bertanya, Siapa yang akan menghadapi musuh?’ Thalhah  menjawab, ‘Saya wahai Rasulullah!’ Maka Tholhah  pun maju ke arena peperangan menggantikan kesebelas syuhada pasukan. Ketika tangannya terkena pukulan dan hantaman musuh, serta jari-jarinya tertebas pedang mereka, Tholhah  hanya berkomentar, ‘Ini sekadar gigitan belaka…’ Maka Rasulullah  bersabda, ‘Jika kamu mengatakan bismillah, maka malaikat pun akan mengangkatmu dan manusia akan menyaksikan. ‘Kemudian Allah pun mencerai beraikan pasukan musyrikin itu.” (HR. an-Nasa’i)

Alangkah tingginya semangat juang Tholhah bin Ubaidillah  bersama sebelas Shohabatnya. Mereka pertaruhkan nyawa mereka untuk melindungi kekasih tercinta, Nabi Muhammad  di dalam menegakkan agama Allah . Inilah tanda cinta hakiki. Cinta yang nyata, bukan angan-angan dan pengakuan belaka.

Telah menjadi suatu ketetapan bahwa orang yang menjalin cinta dengan kekasihnya, pasti akan patuh kepada orang yang dicintainya itu. Ia akan berusaha melaksanakan apa yang disukai oleh kekasihnya, dan berusaha sekuat tenaga berupaya menghindari hal-hal yang dibencinya. Begitupun cinta kepada Nabi , akan memotivasi seseorang untuk komitmen terhadap perintah dan larangannya. Kisah kasih para Shahabat terhadap Nabi Muhammad  telah terukir dalam berbagai kitab Sirah. Di antara sikap mereka terhadap kekasih setianya, Nabi Muhammad  adalah;

 1.Segera menuangkan khamer ke jalan-jalan.

Para Shahabat yang benar-benar menjalin cinta sejati kepada Nabi , tidak hanya menghentikan apa yang menjadi hobi mereka, tetapi lebih dari itu mereka pun bersedia dengan lapang dada dan ridha untuk meninggalkan tradisi-tradisi yang membudaya di kalangan mereka.

Dari Anas bin Malik , dia berkata: “Suatu ketika aku memberi minum khamer di rumah Abu Thalhah , dan khamer mereka waktu itu adalah yang paling rendah mutunya. Lalu Rasulullah  memerintahkan seseorang penyeru untuk memberitahukan kepada khalayak, ‘Keluarkanlah kendi itu dan tuangkanlah seluruh isinya!’ Maka kendi itu pun aku keluarkan dan isinya kutuangkan hingga habis di sepanjang jalan di Madinah.” (HR. al-Bukhori)

 2. Segera menjauhi memakan daging himar (keledai).

 

Salah satu bukti kecintaan para Shahabat terhadap Nabi , bahwasanya ketika mereka dilarang untuk menikmati hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, spontan mereka pun segera menjauhi dan menghindarinya. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik , bahwasanya suatu ketika telah datang Nabi  seorang Shahabat, lalu ia berkata, “Nabi  tidak berkomentar sedikit pun. Lalu orang itu datang untuk kedua kalinya kepada beliau dan ia pun berkata, “Daging himar telah dimakan.” Nabi  pun diam, tidak menjawab. Pada kali ketiga, orang itu datang lagi dan berkata, “Himar telah habis (dimasak).” Maka Nabi  menyuruh seorang munadi (juru penyeru) agar mengumumkan kepada segenap umat Islam, “Sesungguhnya Allah  dan Rasul-Nya telah melarang kalian makan daging keledai.” Maka seketika itu pula periuk-periuk yang berisi masakan daging keledai yang sudah matang dituangkan ke tanah. (HR. al-Bukhari).

 3. Segera melepas gelang.

Demikian pula yang terjadi pada para Shahabat wanita, saat mendengar peringatan dari Rasul  perihal pemakaian perhiasan gelang emas yang tidak dizakati. Maka mereka segera pula menanggalkan perhiasannya. Abdullah bin Amr  berkata, “Suatu ketika seorang wanita datang menemui Rasulullah  bersama putrinya yang mengenakan sepasang gelang emas di tangannya. Maka Rasulullah  bertanya, ‘Apakah kau mengeluarkan zakat atas perhiasan gelang emas itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Tidak!’ Nabi  pun bersabda, ‘Apakah kamu mau jika kelak pada hari Kiamat kamu mendapatkan gelang dari api lantaran sepasang gelang yang engkau pakai itu?’ Lalu wanita tersebut melepas gelangnya dan menyerahkannya kepada Rasulullah , seraya berkata, ‘Sepasang gelang ini adalah milik Allah  dan Rasul-Nya’.” (HR. Abu Dawud).

 4. Segera mengenakan jilbab untuk menutup aurat mereka.

Di saat Allah  dan Rasul-Nya memerintahkan kepada para Shahabat wanita untuk mengenakan jilbab, yaitu sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada, mereka pun dengan segera menarik tirai-tirai rumah untuk menutup aurat mereka, karena perintah Allah  dalam firman-Nya: “Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka’. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. al-Ahzab: 59)

Maka, setiap Muslim wajib mentaati Rasululloh , karena ketika ia mentaati Rasululloh  pada hakekatnya ia sedang melakukan ketaatan kepada Alloh . Alloh  berfirman: “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah”. (QS. An-Nisaa’ [4]: 80) 

Mentaati Rasulullah  memiliki dua sisi penting:

Sisi pertama, taat dalam menjalankan semua perintahnya. Sisi kedua, menjauhi semua larangan Rasulullah . Dua sisi penting ini merupakan hal yang sangat perlu untuk diperhatikan dan dijadikan kaidah dalam hidup kita yaitu tidaklah Rasululloh  memerintahkan sesuatu kecuali perintah itu adalah sebuah kebaikan dan tidaklah Rasululloh  melarang sesuatu kecuali hal tersebut pasti mengandung keburukan.

Demikianlah, beberapa sikap kisah para Shahabat, yang hendaknya menjadi pelajaran bagi kaum Muslimin dengan mempertebal keimanan kepada Rasulullah  sekaligus melaksanakan segala kandungan keimanan kepadanya dengan bersungguh-sungguh untuk melaksanakan hal-hal sebagai berikut;

  1. Berkorban dengan harta dan jiwa untuk menyebarkan ajaran Rasulullah .
  2. Ikhlas mentaati Rasulullah dengan melaksanakan seluruh perintah dan menjauhi seluruh larangan beliau. Allah berfirman: “Jika kalian taat kepadanya, niscaya kalian mendapat petunjuk.” (an-Nuur: 54)

Semoga kita semua bisa menjadi pengikut Rasululloh  yang bisa mewujudkan keimanan kita pada beliau dalam bentuk amal perbuatan nyata dengan melaksanakan apa yang beliau perintahkan termasuk sunnah yang beliau anjurkan.

Sumber:

Buletin As-Silmi Bogor