Kita Bukan Kekurangan Waktu, Kita Kehilangan Keberkahan Waktu

Pernah Merasa Sehari Itu Terlalu Pendek?

Pagi baru saja dimulai.

Mata baru terbuka, alarm dimatikan, mungkin secangkir kopi belum sempat habis. Tahu-tahu waktu sudah mendekati siang.

Pekerjaan belum selesai. Pesan belum semuanya dibalas. Ada tanggung jawab yang masih menunggu. Lalu azan Magrib terdengar.

Malam pun datang.

Tubuh sudah lelah, tetapi daftar pekerjaan masih panjang.

Akhirnya kita mengeluh,

“Kenapa sehari cuma 24 jam, ya?”

Kadang kita bahkan berandai-andai, “Kalau sehari punya 30 jam, mungkin hidup akan terasa lebih ringan.”

Tapi coba berhenti sebentar.

Bukankah semua orang mendapatkan jatah waktu yang sama?

Orang yang bekerja dari pagi sampai sore punya 24 jam.

Orang yang belajar juga punya 24 jam.

Para ulama terdahulu punya 24 jam.

Para sahabat Rasulullah ﷺ pun hidup dengan 24 jam dalam sehari.

Lantas, mengapa ada orang yang waktunya terasa begitu produktif, sementara kita sering menutup hari dengan perasaan, “Hari ini saya sebenarnya melakukan apa?”

Mungkin jawabannya bukan karena kita kekurangan waktu.

Mungkin kita sedang kehilangan keberkahan waktu.

Al-Qur’an Mengajarkan Bahwa Waktu Sangat Berharga

Allah ﷻ bahkan bersumpah dengan waktu.

Dalam Surah Al-‘Ashr, Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ ۝ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ ۝ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Latin:

Wal-‘ashr. Innal-insāna lafī khusr. Illalladzīna āmanū wa ‘amilush-shāliḥāti wa tawāṣaw bil-ḥaqqi wa tawāṣaw bish-shabr.

Artinya:

“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.”

Referensi: QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3. Lihat juga Tafsir Ibn Katsir, tafsir Surah Al-‘Ashr; Tafsir Jalalain, Surah Al-‘Ashr ayat 1–3.

Ada sesuatu yang menarik dari ayat ini.

Allah tidak mengatakan bahwa manusia rugi karena tidak mempunyai cukup waktu.

Allah justru bersumpah dengan al-‘ashr, yaitu masa atau waktu, lalu menyatakan bahwa manusia berada dalam kerugian.

Seolah-olah kita sedang diingatkan:

Waktu yang berlalu tidak pernah benar-benar netral.

Ia bisa menjadi jalan menuju keuntungan akhirat.

Namun ia juga bisa menjadi sesuatu yang justru mengantarkan manusia kepada kerugian.

Karena setiap menit yang pergi tidak akan pernah kembali.

Saat Satu Hari Berlalu, Sebenarnya Apa yang Hilang?

Kita sering melihat pergantian hari sebagai sesuatu yang biasa.

Senin menjadi Selasa.

Selasa menjadi Rabu.

Kalender berganti.

Lalu bulan berganti.

Tanpa terasa, tahun pun berganti.

Padahal ada sesuatu yang ikut berubah bersama semua itu:

umur kita.

Hari Senin yang kemarin tidak akan kembali.

Masa muda yang telah lewat tidak dapat diputar ulang.

Kesempatan untuk berbuat baik yang kita tunda hari ini belum tentu tersedia besok.

Itulah sebabnya Rasulullah ﷺ mengingatkan kita tentang dua nikmat yang sering luput dari perhatian.

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Latin:

Ni’matāni maghbūnun fīhimā katsīrun minan-nās, aṣ-ṣiḥḥatu wal-farāgh.

Artinya:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) karenanya: kesehatan dan waktu luang.”

Referensi: HR. al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6412. Hadis ini shahih, dari Ibnu Abbas r.a.

Perhatikan satu kata dalam hadis tersebut:

مَغْبُونٌ — maghbūn.

Kata ini berkaitan dengan kerugian dalam sebuah transaksi.

Bayangkan seseorang diberi modal yang sangat berharga, tetapi ia tidak menyadari nilainya. Ia menghabiskannya sedikit demi sedikit sampai akhirnya tidak tersisa.

Begitulah waktu.

Kita menerimanya setiap pagi.

Namun kita tidak pernah tahu berapa banyak “modal” yang masih tersisa.

Waktu Adalah Modal yang Tidak Bisa Dikembalikan

Uang yang hilang terkadang masih bisa dicari.

Pekerjaan yang tertunda masih mungkin diselesaikan.

Barang yang rusak mungkin dapat diperbaiki.

Tetapi waktu?

Tidak.

Satu jam yang telah berlalu tidak bisa dibeli kembali dengan uang sebanyak apa pun.

Karena itu, ketika waktu digunakan untuk belajar, bekerja mencari rezeki halal, mengurus keluarga, membantu orang lain, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, menjaga kesehatan, atau melakukan amal saleh, sebenarnya kita sedang mengubah waktu menjadi sesuatu yang bernilai.

Sebaliknya, ketika sebagian besar waktu habis dalam perkara yang sia-sia, modal itu pergi begitu saja.

Tidak ada tombol undo.

Tidak ada fitur restore.

Dan tidak ada kesempatan untuk meminta kembali hari kemarin.

Apa Sebenarnya Makna Keberkahan Waktu?

Kita perlu berhati-hati memahami istilah berkah.

Keberkahan waktu bukan berarti jam di dinding tiba-tiba bergerak lebih lambat.

Bukan pula berarti seseorang mendapatkan 30 jam dalam sehari.

Keberkahan lebih tepat dipahami sebagai adanya kebaikan dan manfaat dalam waktu yang Allah berikan.

Ada orang yang hanya memiliki sedikit waktu luang, tetapi mampu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Ada pula orang yang sepanjang hari tampaknya tidak terlalu sibuk, tetapi ketika malam tiba ia sendiri bingung ke mana waktunya pergi.

Maka pertanyaan yang perlu kita ubah bukan:

“Bagaimana caranya supaya saya punya lebih banyak waktu?”

Melainkan:

“Untuk apa waktu yang Allah berikan kepada saya?”

Pertanyaan kedua jauh lebih dalam.

Sebab persoalannya bukan hanya berapa banyak waktu yang kita miliki, tetapi ke mana waktu tersebut kita arahkan.

Mengapa Waktu Terasa Cepat Sekali Habis?

Ada beberapa kebiasaan yang diam-diam menggerogoti waktu kita.

1. Terlalu Lama Berada di Hal-Hal yang Tidak Penting

Kita membuka ponsel hanya untuk melihat satu notifikasi.

Lalu membuka media sosial.

Melihat satu video.

Lanjut ke video berikutnya.

Kemudian membaca komentar.

Setelah itu berpindah ke aplikasi lain.

Awalnya hanya ingin lima menit.

Tahu-tahu sudah satu jam.

Teknologi sebenarnya bukan musuh.

Media sosial juga tidak otomatis menjadi sesuatu yang haram hanya karena ia media sosial.

Persoalannya muncul ketika alat yang seharusnya kita kendalikan justru mulai mengendalikan kita.

Lima menit memang terlihat sepele.

Tetapi lima menit yang diulang berkali-kali setiap hari bisa berubah menjadi waktu yang sangat besar.

2. Kebiasaan Menunda

Ada satu kata yang kelihatannya sederhana, tetapi sering sekali mencuri kesempatan:

“Nanti.”

Nanti saya belajar.

Nanti saya membaca Al-Qur’an.

Nanti saya memperbaiki salat.

Nanti saya meminta maaf.

Nanti saya mulai berubah.

Nanti ketika pekerjaan sudah selesai.

Masalahnya, kita tidak pernah mendapatkan kontrak dengan kehidupan bahwa “nanti” pasti datang.

Allah ﷻ berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Latin:

Alhākumut-takātsur. Ḥattā zurtumul-maqābir.

Artinya:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Referensi: QS. At-Takatsur [102]: 1–2.

Manusia bisa begitu sibuk mengejar dunia sampai lupa bahwa kehidupan memiliki batas.

Kita mengejar lebih banyak uang.

Lebih banyak pengakuan.

Lebih banyak pengikut.

Lebih banyak pencapaian.

Sementara waktu untuk Allah justru sering ditempatkan di bagian paling belakang.

3. Sibuk Belum Tentu Produktif

Ini juga jebakan yang sering tidak kita sadari.

Seseorang bisa sangat sibuk, tetapi tidak menghasilkan sesuatu yang berarti.

Ponselnya aktif sepanjang hari, tetapi pekerjaannya tidak selesai.

Ia membaca banyak hal, tetapi tidak benar-benar mendapatkan ilmu.

Ia berbicara tentang kebaikan, tetapi tidak bergerak untuk mengamalkannya.

Dalam Islam, yang penting bukan sekadar seberapa banyak aktivitas kita, tetapi apakah aktivitas tersebut membawa manfaat.

Allah ﷻ berfirman:

وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Latin:

Walladzīna hum ‘anil-laghwi mu’riḍūn.

Artinya:

“Dan orang-orang yang berpaling dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna.”

Referensi: QS. Al-Mu’minun [23]: 3.

Seorang mukmin bukan berarti tidak pernah bersantai.

Bukan pula berarti setiap detik harus diisi dengan aktivitas serius.

Namun ia memiliki kesadaran: tidak semua hal layak mendapatkan waktu terbaik dalam hidupnya.

Hasan Al-Bashri: “Engkau Hanyalah Kumpulan Hari”

Ada sebuah nasihat yang sangat masyhur dari Hasan al-Bashri رحمه الله.

Beliau berkata:

يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ، كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

Latin:

Yā ibna Ādam, innamā anta ayyām, kullamā dzahaba yaumun dzahaba ba’ḍuk.

Artinya:

“Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Setiap kali satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu ikut berlalu.”

Referensi: Dinukil dari Hasan al-Bashri; tercatat antara lain dalam Az-Zuhd karya Imam Ahmad bin Hanbal, no. 1586, dan Hilyatul Auliya’, karya Abu Nu’aim al-Ashbahani, jilid 2, hlm. 148.

Kalimat ini singkat.

Tetapi kalau direnungkan, ia terasa sangat dalam.

Kita sering berkata:

“Hari ini sudah berlalu.”

Padahal yang sebenarnya berlalu bukan hanya tanggal di kalender.

Sebagian umur kita juga pergi bersamanya.

Maka ketika kita kehilangan waktu, yang hilang bukan sekadar kesempatan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Yang hilang adalah bagian dari kehidupan kita sendiri.

Dan bagian itu tidak akan pernah kembali.

Bagaimana Cara Mendapatkan Keberkahan Waktu?

Keberkahan tidak cukup hanya dibicarakan.

Ia perlu dijemput dengan kebiasaan yang baik.

Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa mulai dilakukan.

1. Jangan Biarkan Ponsel Menjadi Hal Pertama yang Menguasai Pagi

Begitu bangun, tangan sering kali otomatis mencari ponsel.

Notifikasi diperiksa.

Pesan dibuka.

Media sosial dilihat.

Hari bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi perhatian kita sudah diseret ke berbagai arah.

Cobalah memberi ruang untuk Allah terlebih dahulu.

Bangun, tunaikan kewajiban, berdoa, berdzikir, lalu susun niat untuk menjalani hari.

Bukan karena ponsel selalu buruk.

Tetapi karena perhatian kita terlalu berharga jika diberikan begitu saja kepada apa pun yang muncul di layar.

2. Bedakan Mana yang Wajib dan Mana yang Sekadar Ingin

Tidak semua hal harus dikerjakan sekarang.

Ada kewajiban.

Ada amanah.

Ada kebutuhan.

Ada pula keinginan yang sebenarnya bisa ditunda.

Maka susun prioritas.

Dahulukan kewajiban kepada Allah.

Kemudian tanggung jawab kepada keluarga.

Pekerjaan dan amanah yang harus ditunaikan.

Setelah itu, barulah perkara tambahan.

Jangan sampai kita memberikan energi terbaik kepada sesuatu yang sebenarnya tidak penting, sementara perkara yang wajib justru terus ditunda.

3. Berani Mengurangi Hal yang Tidak Memberi Manfaat

Seorang Muslim tidak harus menghapus seluruh hiburan dari hidupnya.

Istirahat itu perlu.

Bersenang-senang dalam perkara yang mubah juga bukan sesuatu yang otomatis tercela.

Tetapi tetap perlu kendali.

Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:

“Setelah satu jam saya habiskan untuk ini, apa yang berubah?”

Apakah saya menjadi lebih tenang?

Lebih berilmu?

Lebih dekat dengan keluarga?

Lebih siap bekerja?

Atau justru hanya merasa kosong dan ingin membuka layar lagi?

Pertanyaan sederhana seperti ini bisa menjadi cermin.

4. Jangan Menunggu Senggang untuk Berbuat Baik

Ini mungkin salah satu jebakan terbesar.

“Kapan-kapan saya akan belajar agama.”

“Nanti kalau pekerjaan sudah longgar, saya akan membaca Al-Qur’an.”

“Kalau sudah punya banyak uang, saya akan lebih banyak bersedekah.”

Padahal hidup jarang sekali benar-benar sepi dari kesibukan.

Justru karena itulah Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita memanfaatkan kesempatan sebelum ia hilang.

Beliau ﷺ bersabda:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

Latin:

Ightanim khamsan qabla khams: syabābaka qabla haramik, wa ṣiḥḥataka qabla saqamik, wa ghināka qabla faqrika, wa farāghaka qabla syughulik, wa ḥayātaka qabla mautik.

Artinya:

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, kesehatanmu sebelum sakitmu, kekayaanmu sebelum kemiskinanmu, waktu luangmu sebelum kesibukanmu, dan kehidupanmu sebelum kematianmu.”

Referensi: Diriwayatkan antara lain oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman. Al-Albani menilainya shahih dalam Shahih at-Targhib, no. 3355.

Pesannya sederhana, tetapi sering kita abaikan:

Jangan menunggu kondisi ideal untuk mulai menjadi lebih baik.

Gunakan apa yang tersedia sekarang.

Punya sedikit waktu? Gunakan sedikit itu.

Punya sedikit rezeki? Sedekahkan sesuai kemampuan.

Punya sedikit ilmu? Amalkan dan ajarkan kebaikan yang benar-benar kita ketahui.

Tidak perlu menunggu hidup sempurna untuk mulai mendekat kepada Allah.

Keberkahan Waktu Dimulai dari Apa yang Kita Anggap Penting

Ada orang yang waktunya sangat padat, tetapi hidupnya terasa bermakna.

Ada pula yang punya banyak waktu luang, tetapi hari-harinya terasa kosong.

Jadi, persoalannya tidak selalu terletak pada jumlah waktu.

Sering kali, persoalannya terletak pada prioritas.

Orang yang menganggap salat penting akan mencari ruang untuk salat.

Orang yang menganggap ilmu penting akan menyediakan waktu untuk belajar.

Orang yang menganggap keluarga penting tidak hanya memberi mereka sisa tenaga setelah semua urusan selesai.

Dan orang yang menganggap akhirat penting akan berusaha menyisihkan bagian terbaik dari hidupnya untuk bekal menuju sana.

Inilah salah satu cara memahami keberkahan waktu:

bukan tentang berapa banyak jam yang kita miliki, tetapi berapa banyak kebaikan yang lahir dari jam-jam tersebut.

Jangan Sampai Kita Terlalu Sibuk Mengejar Dunia, Lalu Kehabisan Umur

Pada akhirnya, setiap perjalanan akan berhenti.

Ada satu hari ketika kita tidak lagi bisa mengatakan:

“Besok saya akan berubah.”

Tidak ada lagi kesempatan untuk berkata:

“Besok saya akan lebih rajin salat.”

“Besok saya akan meminta maaf kepada orang tua.”

“Besok saya akan membaca Al-Qur’an.”

“Besok saya akan meninggalkan dosa ini.”

Hari itu adalah hari ketika kematian datang.

Allah ﷻ menggambarkan penyesalan manusia pada saat itu:

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ ۝ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ

Latin:

Ḥattā idzā jā’a aḥadahumul-mautu qāla rabbirji’ūn. La’allī a’malu ṣāliḥan fīmā taraktu.

Artinya:

“Hingga apabila kematian datang kepada seseorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.’”

Referensi: QS. Al-Mu’minun [23]: 99–100.

Namun permintaan itu tidak dikabulkan.

Karena itu, jangan menunggu kematian untuk menyadari betapa mahalnya satu hari yang kita miliki sekarang.

Mungkin Kita Tidak Kekurangan Waktu

Coba malam ini, sebelum tidur, jangan hanya bertanya:

“Apa saja yang sudah saya kerjakan hari ini?”

Tanyakan juga:

“Apa yang benar-benar bernilai dari hari saya?”

Apakah ada ibadah yang lebih baik?

Apakah ada ilmu yang bertambah?

Apakah ada orang yang terbantu?

Apakah ada kesalahan yang saya perbaiki?

Apakah ada dosa yang saya tinggalkan?

Apakah hari ini membuat saya sedikit lebih dekat kepada Allah daripada kemarin?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu jauh lebih penting daripada sekadar menghitung berapa banyak pekerjaan yang berhasil dicentang.

Surah Al-‘Ashr mengingatkan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang mengisi kehidupannya dengan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa kesehatan dan waktu luang merupakan dua nikmat yang sering disia-siakan.

Hasan al-Bashri mengingatkan bahwa manusia pada hakikatnya adalah kumpulan hari; ketika satu hari berlalu, sebagian dari dirinya ikut pergi.

Maka mulai sekarang, jangan hanya berusaha mengatur waktu.

Belajarlah mengisi waktu dengan sesuatu yang bernilai di sisi Allah.

Sebab pada akhirnya, yang paling menyakitkan bukan hanya ketika kita merasa waktu terlalu sedikit.

Yang lebih menyedihkan adalah ketika kita menyadari bahwa:

kita pernah memiliki begitu banyak waktu, tetapi terlalu sedikit yang kita gunakan untuk mendekat kepada Allah.

Kita mungkin bukan kekurangan waktu.

Kita hanya perlu belajar menghargai setiap waktu yang Allah titipkan.

Sebab setiap pagi yang masih kita temui adalah kesempatan.

Setiap malam yang masih kita lewati adalah kesempatan.

Dan setiap hari yang Allah berikan kepada kita mungkin merupakan kesempatan terakhir yang tidak kita ketahui.

Maka jangan tunggu hari esok untuk menjadi lebih baik.

Gunakan hari ini.

Referensi Utama

  1. Al-Qur’an, QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3.
  2. Tafsir Ibn Katsir, tafsir Surah Al-‘Ashr.
  3. Tafsir Jalalain, Surah Al-‘Ashr ayat 1–3.
  4. Shahih al-Bukhari, Kitab ar-Riqaq, hadis no. 6412.
  5. Az-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal, no. 1586.
  6. Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim al-Ashbahani, jilid 2, hlm. 148.
  7. Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, Al-Hakim, riwayat tentang اغتنم خمسًا قبل خمس.